BATASAN AURAT ANAK PEREMPUAN DENGAN MAHRAMNYA
Sebelum membaca artikel di bawah ini, saya share KUMPULAN BACAAN AL-QUR'AN LENGKAP. Semoga bermanfaat.
Aurat adalah kemaluan dan semua hal yang dapat menimbulkan rasa malu apabila terlihat. Aurat merupakan perhiasan yang wajib ditutupi dari orang-orang yang tidak berhak untuk melihatnya dan atau menikmatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kepada kita bahwa,
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ،
وَبِأَنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِـهَا اسْتَشْـرَ فَهَا الشَّيْـطَانُ
“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar
rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits
shahih. Riwayat Tirmidzi no. 1173,
Karena
itu, kita sebagai kaum wanita haruslah menaruh perhatian yang besar terhadap
masalah ini. Hanya saja, Allah ta’ala telah memberikan
pengecualian mengenai larangan menampakkan aurat kepada beberapa orang yang
menjadi mahram kita. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
“…
dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada
suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra
mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau
putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak
yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (Qs. An-Nuur: 31)
Dalam surat an-Nuur ayat 31,
Allah ta’ala membolehkan
mahram melihat bagian-bagian dari perhiasan seorang wanita yang tidak boleh
ditampakkan pada laki-laki yang bukan mahram. Hal ini dikarenakan keadaan
darurat yang mendorong terjadinya percampur-bauran di antara mereka mengingat
adanya hubungan kekerabatan dan amannya mereka (para mahram) dari fitnah.
[Lihat Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/157)]
Seorang mahram hanya boleh melihat
anggota tubuh wanita yang biasa nampak, seperti anggota-anggota tubuh yang
terkena air wudhu’. [Lihat Sunan al-Baihaqi(no. 9417) dan Ensiklopedi
Fiqh Wanita (II/159)]
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu
‘anhuma, “Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam melakukan
wudhu’ secara bersamaan.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 193)]
Kesimpulannya adalah bahwa
mahram hanya diperbolehkan untuk melihatanggota
wudhu’ seorang
wanita.
BATAS DAN TATA CARA
HUBUNGAN ANAK PEREMPUAN DAN AYAH KANDUNGNYA
1.
Makruh hukumnya bagi ayah tidur seranjang dengan putrinya atau ibu tidur
seranjang dengan putranya yang sudah akil baligh.
Demikian juga antara dua saudara kandung yang lawan jenis. Hukum makruh ini
berlaku apabila tidak ada syahwat. Apabila terjadi syahwat pada salah satunya
atau keduanya maka hukumnya haram. Kami sangat menganjurkan agar ayah anda
jangan dibolehkan untuk mengeloni (menemani tidur) anda apalagi sampai
menyentuh dan mengelus-elus bagian tubuh tertentu.
Dalam sebuah hadits sahih riwayat Abu Dawud, Nabi bersabda:
مروا
أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهم عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم
في المضاجع
Artinya: Perintahkan anak-anakmu shalat pada usia 7 tahun. Pukullah mereka untuk shalat pada usia 10 tahun. Dan pisahlah mereka di tempat tidur. (Hadits ini menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/12,).
Sebuah hadits serupa dari Abu Rafi' riwayat Al-Bazzar Abu Rafi' berkata:
Rasulullah bersabda:
وفرقوا بين مضاجع الغلمان والجواري والأخوة والأخوات لسبع سنين ، واضربوا أبناءكم على الصلاة إذا بلغوا أظنه تسع سنين ،
Artinya: Pisahlah antara tempat tidur anak-anak laki-laki dan perempuan, saudara
laki-laki dan saudara perempuan pada usia usia 7 tahun. Dan pukullah anak
kalian agar shalat apabila berusia 9 tahun.
2. Batasi kontak fisik yang
sekiranya tidak sampai bersentuhan secara intim. Yang dimaksud intim seperti
berpelukan di sofa, bersentuhan di ranjang, dan semacamnya yang biasa dilakukan
oleh lawan jenis yang suami - istri.
Belum ada tanggapan untuk "BATASAN AURAT ANAK PEREMPUAN DENGAN MAHRAMNYA"
Post a Comment